logoblog

Cari

Tutup Iklan

Legenda Tenis Indonesia, Kunjungi KM Abiantubuh

Legenda Tenis Indonesia, Kunjungi KM Abiantubuh

Lombok memang keren,  sampai penghuninya tidak sadar bahwa pulau cantik ini dikagumi dan didatangi orang orang hebat dan juga keren. Seperti

Kuliner Modern

KM. Abiantubuh
Oleh KM. Abiantubuh
14 September, 2016 16:11:59
Kuliner Modern
Komentar: 0
Dibaca: 20447 Kali

Lombok memang keren,  sampai penghuninya tidak sadar bahwa pulau cantik ini dikagumi dan didatangi orang orang hebat dan juga keren. Seperti yang datang berkunjung ke KM Abiantubuh tadi siang, dua orang hebat yang mengharumkan nama Indonesia di Asean Game yaitu Suzana Anggar Kusuma dan Tintus Ariwibowo. Mereka berdua merupakan atlet nasional yang pernah berjaya di masanya.  

Suzana mengatakan sangat senang berada di Lombok, seraya bertanya  di mana tempat makan yang enak. Sebelum pulang mereka saya beri salah satu buku berjudul Ampenan kota Tua. Baru baca judul bukunya saja beliau tertarik dan langsung minta diantar ke Ampenan. “kapan lagi kita bisa ke situ, kata mbak anak.

Mereka terlihat sangat menikmati tahu krispy yang dihidangkan. Tiga porsi yang disiapkan sore itu hanya tinggal satu porsi, yang satu itu pun memang sengaja disisakan buat camilan di perjalanan. Setelah ngobrol soal kuliner lombok, mereka berpamitan untuk melanjutkan tur kulinernya. Sebelum naik ke mobil, saya sempat minta mereka berpose.

Dari hasil googling saya terdapat informasi bahwa Suzzana Anggarkusuma merupakan  Perintis Tenis Profesional Indonesia. Dalam sebuah tulisan berjudul Awalnya, Tak Tahu Cara Ikut Turnamen, dijelaskan bahwa: Pamor Suzanna Anggarkusuma di arena tenis memang kalah bila dibandingkan dengan Yayuk Basuki. Tetapi, mantan petenis nasional itu punya andil besar dalam sejarah tenis profesional di Indonesia. PRESTASI tenis Indonesia memang sudah cukup dikenal ketika gadis cilik Suzanna Anggarkusuma berusia 12 tahun pada sekitar 1975. Nama-nama Mien Gondowidjojo, Lita Sugiarto, dan Yolanda Soemarno lebih dulu mencuat ke permukaan. Kiprah mereka di ajang tenis nasio­nal dan internasional telah banyak ditulis di berbagai media cetak.

Namun, mencuatnya mereka itu hanya dalam pertandingan-pertandingan amatir. Even yang mereka ikuti pun sangat terbatas. Misalnya, arena SEA Games, Asian Games, Kejuaraan Terbuka Asia, dan Kejuaraan Tenis Beregu Wanita (Piala Fed). Atau, mengikuti turnamen terbuka yang hanya menyediakan medali atau piala. Mereka tampil di ajang internasional hanya demi Merah Putih. Keberhasilan menjadi juara memang tak jarang mendatangkan hadiah uang yang lumayan. Tetapi, hadiah itu bukan dari penyelenggara. Mereka menerima hadiah itu dari induk organisasinya (PB Pelti), pemerintah, atau pihak-pihak sponsor sebagai bonus. Karena hanya bermain di ajang amatir, even yang tergelar pun sangat terbatas. Kondisi seperti itu membuat diperlukannya pemusatan latihan nasional (pelatnas). Setiap hendak menghadapi even besar yang membawa nama negara, seperti SEA Games, Asian Games, dan Piala Fed, diadakan seleknas dan berlanjut ke pelatnas.

Rutinitas berlatih di pelatnas itu juga pernah dijalani Anna -sapaan akrab Suzanna- sejak kali pertama ikut SEA Games di Manila, Filipina, pada 1981. Dia masuk pelatnas setelah mampu menjuarai beberapa turnamen amatir di tanah air dan lolos dari seleknas pada 1979 serta menjadi juara PON pada 1981 di Jakarta.

Sebagai petenis junior yang baru berusia 17 tahun, Anna masuk skuad SEA Games 1981 di Filipina sebagai tunggal kedua. Saat itu tunggal pertama ditempati Yolanda Soemarno. Keduanya ditemani Lita Sugiarto dan Utaminingsih. Meski hanya ditempatkan sebagai tunggal kedua, di nomor tunggal perorangan, Anna mampu membuat kejutan. Dia lolos hingga babak final. Tetapi, akhirnya dia harus puas dengan medali perak setelah di final dikalahkan petenis asal Filipina. Di nomor beregu, Indonesia mendapatkan medali emas.

 

Baca Juga :


Gebrakan dari SEA Games 1981 itu membuat Anna kembali mendapat kepercayaan dari PB Pelti untuk meng­huni Pelatnas Proyeksi Asian Games 1982 di New Delhi, India. Tetapi, hasil di Asian Games itu hanya berbuah pengalaman. Meski begitu, kibasan raket Anna semakin mendapatkan perhatian PB Pelti.

Hingga akhirnya, pasca Asian Games tersebut, Anna dikirim ke Amerika untuk berlatih di kamp Bill Tym. Keber­adaan berlatih di Negeri Paman Sam itu menjadi pembuka petenis Indonesia mulai mengenal turnamen berhadiah.

Mbak Suzana datang bersama Tintus Arianto Wibowo (lahir di Surabaya19 Agustus 1960; umur 56 tahun) suaminya. Titus Arianto merupakan seorang pemain tenis  Indonesia. Prestasinya antara lain ialah Medali Perak SEA Games 1981, Juara Beregu Asian Games 1982 dan Medali Perak Pada Asian Games 1986.[] - 05

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan